cool hit counter

PDM Kabupaten Batang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM  Kabupaten Batang
.: Home > Artikel

Homepage

Menangkal Hiperdigital Anak TK

.: Home > Artikel > PDM
26 Maret 2012 10:03 WIB
Dibaca: 1550
Penulis :

PESATNYA perkembangan teknologi dewasa ini mendorong anak-anak usia TK   dan SD mengenal dan mampu mengoperasikan telepon seluler (ponsel) atau HP.   Hal ini terjadi akibat sikap orang tua yang terlalu longgar dan membiarkan anak-anaknya berkawan terlalu jauh dengan perangkat digital.   Orang tua tidak ingin anak-anaknya gagap teknologi (gaptek).   Malu kalau anak-anaknya terasing dengan perangkat ternologi canggih. Mereka tidak menyadari bahwa di balik kelonggaran itu tersimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Gejala tersebut mulai tampak dengan hadirnya  ponsel internet yang canggih dan murah. Kepraktisan ponsel internet tidak hanya berfungsi sebagai alat bicara, tetapi juga menjadi media bermain dan berselancar di dunia maya. Apalagi dengan hadirnya peranti lunak gratisan (open source) yang bisa ditanamkan pada handset tertentu.

Namanya anak-anak, kalau sudah  hanyut dalam permainan bisa melupakan segalanya. Apalagi tipe ponsel menyediakan berbagai fitur seperti facebook, face time, game dan video chat.  Mereka bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Dampaknya adalah perubahan perilaku sosial dalam diri anak. Anak-anak menjadi hiper-digital yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap gadget.

Sebuah studi Stanford University mengungkap bahwa ponsel berdampak  buruk bagi perilaku sosial anak.  Anak-anak yang sebagian besar waktunya digunakan untuk multitasking antara berbagai perangkat digital, berkomunikasi online atau menonton video adalah anak-anak yang nantinya tidak memiliki kecenderungan mengembangkan kecenderungan sosial normal.
Hasil survei dari 3.461 anak perempuan di Amerika usia 8-12 tahun memperlihatkan hal tersebut.  Menurut pakar komunikasi Profesor Clifford Nass,   keterampilan sosial hanya bisa dipelajari saat anak-anak terlibat dan melakukan kontak mata, bukan mengotak-atik iPad. Menurutnya, selama percakapan.anak-anak harus mempelajari emosi secara nyata dengan memperhatikan orang lain.

Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa aplikasi semacam video-Chat Apple, Facetime, maupun Facebook bukanlah  interaksi yang nyata bagi manusia, terutama untuk anak-anak.  Berdasarkan studi tersebut, anak yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermain HP cenderung memiliki masalah sosial. (AntaraNews.com).

Tetu saja ini menjadi PR bagi para orang tua di rumah, lebih-lebih bagi guru di sekolah. Perlu diupayakan solusi yang tepat untuk mencegah perilaku anak-anak yang  anto sosial dan lebih gemar  bermain lewat dunia virtual.
 

Menangkal

Sekolah TK merupakan pintu awal bagi anak untuk mengenal hubungan sosial.  Melalui sekolah anak-anak bisa belajar mengenal dunia sekelilingnya lewat interaksi dengan orang lain.  Maka peran guru TK, selain sebagai pengasuh, juga sebagai “penyuluh” agar anak didiknya diarahkan pada hal-hal yang baik.

Menangkal hiper-digital pada anak-anak bisa dilakukan dengan mengajak mereka menghabiskan banyak waktu berinteraksi tatap muka dengan orang lain.  Di sekolah anak-anak  TK diperkenalkan dengan berbagai macam mainan dan diajari teknik berkomunikasi langsung.

Terkait dengan pemanfaatan HP misalnya, guru TK perlu memberikan pemahaman yang utuh tentang dampak buruk HP bagi perkembangan anak. Bila perlu menghimbau pada wali murid untuk selalu mengawasi perilaku anak-anaknya jangan sampai  keranjingan bermain HP .

Meskipun TK termasuk lembaga pendidikan formal, namun sistem penanganan murid tidak sama dengan jenjang sekolah lain di atasnya. Namanya saja  “taman” bukan “sekolah”. Ini mengandung makna  bahwa pelaksanaan pendidikan di TK harus mampu menciptakan lingkungan bermain yang aman dan nyaman sebagai wahana tumbuh kembang anak. Guru TK harus memperhatikan tahap tumbuh kembang anak didik, kesesuaian dan keamanan alat dan sarana bermain, serta metode yang digunakan dengan mempertimbangkan waktu, tempat, serta teman bermain.

Berdasarkan Surat Edaran Mandikdasmen Depdiknas Nomor 1839/C.C2/TU/2009, pelaksanaan pendidikan di TK menganut prinsip:  ”Bermain sambil Belajar dan Belajar seraya Bermain”. Bermain merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi anak didik. Sebelum bersekolah, bermain merupakan cara alamiah untuk menemukan lingkungan, orang lain dan dirinya sendiri.

Pada prinsipnya bermain mengandung makna yang menyenangkan dan mengasikkan, tanpa ada paksaan dari luar diri anak. GuruTK  juga dituntut memiliki performa mengajar yang menyenangkan bagi anak. Jika tidak, jangan salahkan jika anak TK lebih tertarik  pada permainan digital dari pada sarana permainan di yang direkomendasikan pakar pendidikan. (Nur Khasanah, Guru TK ABA Sodong, Batang).

Dimuat di REPUBLIKA,  26 MARET 2012
 


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website