cool hit counter

PDM Kabupaten Batang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM  Kabupaten Batang
.: Home > MAM Limpung

Homepage

Sejarah MAM Limpung

PROFIL

Tahun Berdiri : 11 April 1985.
S.K.: kw.11.4/4/PP.03.2/625.25.02/2006 Kanwil depag Jawa Tengah.
Akreditasi : B
Alamat     : Jl. Cokronegoro 34 Limpung, Batang. 51271
 
Visi:
Unggul dalam Ilmu, Unggul dalam Perilaku

Missi:
1.    Meningkatkan efektifitas pembelajaran.
2.    Menanamkan kesadaran diri untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki.
3.    Membiasakan untuk melakukan hal-hal yang baik, berakhlakul karimah.
Tujuan:
Membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggungjawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Sejarah

Dalam perjalanan naik bis di tahun 1980an, empat tokoh Muhammadiyah yakni Khuzaini Munar, Achmad Badjuri, Mubin Sanusi dan Mawardi terlibat pembicaraan serius tentang pentingnya mendirikan Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) di Limpung. Gagasan tersebut akhirnya dibawa ke forum rapat.

Pada tanggal 08 Dzulhijah 1405 H/ 11 April 1985 M Pimpinan Cabang Muhammadiyah Limpung lengkap dengan bagian_bagiannya bersama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Majlis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan mengadakan rapat dan sepakat mendirikan MAM Limpung sekaligus menyusun panitia pendirian beserta program jangka pendeknya. Susunan pengurus yang menangani pendirian MAM Limpung adalah: Achmad Badjuri (Ketua I), Slamet Kamil (Ketua II), Much. Fachir Ch (Sekretaris I), Wagiman (Sekretaris II), Suharto (Bendahara), sedangkan anggotanya Suharlan, Suroso, Choris Ms, dan Much Buchori.

Langkah tersebut dilakukan mengingat Anggaran Dasar Muhammadiyah Bab II Pasal 2 tentang amal usaha dan juga melihat perkembangan dunia pendidikan di kecamatann Limpung yang belum menggembirakan. Tamatan SMP/ MTs di wilayah kecamatan Limpung dan sekitarnya pada tahun ajaran 1984/ 1985 kurang lebih 300 anak, sementara daya tampung SMTA kurang lebih 175 anak. Artinya ada 125 anak didik yang tak tertampung.

Menurut  H. Achmad Badjuri, Kepala MAM pertama, niat awal pendirian MAM Limpung adalah  upaya pelebaan sayap atau semacam kelas jauh dari MAM Batang untuk menampung anak didik dari Limpung.  Namun dalam perkembangan berikutnya, pihak MAM Batang lepas tangan dan akhirnya MAM Limpung berdiri sendiri.

Pada awalnya kegiatan belajar mengajar bertempat di gedung sederhana dengan tiga ruang kelas. Bangunan yang semula didirikan untuk kegiatan  Taman Pendidikan Al-Quran itu akhirnya dijadikan tempat belajar mengajar siswa-siswi MAM. Sedangkan kantor TU dan ruang guru menempati bangunan kecil bersebelahan dengan ruang kelas taman kanak kanak. Bangunan reyot itu menjadi saksi bisu perjalanan sejarah MAM Limpung.

Pada angkatan pertama, yakni tahun ajaran 1985/1986, MAM Limpung menampung 34 murid. Ini merupakan hasil kerja keras para pengurus yang sengaja mencari anak-anak ke kampung-kampung agar mau belajar di MAM Limpung. Prinsipnya, yang penting murid ada dulu. Jumlah murid pertama itulah yang akhirnya diabadikan menjadi alamat sekolah (Jalan Cokronegoro 34).

Langkah berikutnya adalah perekrutan guru. Tidak mudah menemukan  pengajar yang diharapkan karena masih minimnya SDM lulusan perguruan tinggi saat itu. Sampai-sampai pengurus mengundang guru dari Klaten) untuk mengajar di MAM Limpung bersama guru-guru lain dari Batang, Limpung dan Tersono.

Persoalan kesejahteraan guru belum benar-benar terpikirkan dan masih mengandalkan kerelaan berjuang untuk MAM. Kondisi keuangan masih belum stabil karena terbatasnya donatur.  Pihak sekolah tidak berani menekan para murid untuk membayar iuran pendidikan, sebab mereka mau sekolah saja sudah untung.

Demi kelangsungan hidup MAM Limpung, semua rela berkorban. Termasuk kepala sekolahnya, Achmad Badjuri yang rela merogoh kantong sendiri jika ada kegiatan terkait tugasnya.  Dan yang tidak terlupakan adalah peran Ibu  Hj. Aisyah Suharto  (alm) dan suaminya Bapak H.Suharto (alm) yang setia memikirkan kebutuhan keuangan MAM.
    

Perkembangan

Untuk menghindari ketertinggalan dengan sekolah lain, ke depan MAM Limpung berusaha meningkatkan nilai plus, bukan dari sisi kuantiti jumlah siswa tetapi pada mutu dan input yang diberikan kepada anak didik.

Ikon yang kini sedang dibangun adalah bahwa segenap alumnus MAM Limpung harus bisa menjadi khotib di daerahnya masing masing mengingat akhir akhir ini di berbagai tempat terjadi krisis khotib. Kepala MAM saat ini, M. Furqon, S.Ag menyatakan, sejak kelas satu dilatih berpidato meskipun menggunakan teks. Kelas dua pidato tanpa teks dan kelas tiga diharapkan bisa berkhutbah.

Selain itu,  MAM Limpung juga mengembangkan bidang ekstrakurikuler.  Sekolah yang berdiri 11 April 1985 ini telah megembangkan berbagai seni yaitu seni bela diri tapak suci, tilawatil Qur’an dan   lainya. Seni bela diri Tapak Suci dilakukan para siswa seminggu sekali untuk membekali fisik maupun mentalnya agar sehat lahir batin.

Selain kedua kesenian tersebut juga ada seni membaca AL-QUR’AN yaitu Tilawatil Qur’an.  Kehebatan tilawatil Qur’an MAM Limpung tidak di ragukan lagi. Siswa MAM Limpung sering menjuarai lomba Tilawatul Qur’an se kabupaten.

MAM Limpung juga menjadi  salah satu sekolah swasta di Batang yang terbuka dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. MAM Limpung kini telah memiliki fasilitas yang memadahi guna menunjang praktek saat pelajaran TIK. Dengan memiliki puluhan komputer pentium 4 dengan monitor LCD TV dan dilengkapi dengan fasilitas layanan internet, para siswa di MAM Limpung dapat memanfaatkannya untuk mengakses segala informasi yang ada di dunia ini.

Targetnya adalah menciptakan siswa yang kompeten dalam bidang TIK setelah mereka lulus dengan memberikan sertifikat yang menandai bahwa siswa tersebut ahli di bidang TIK, yang dapat membantu mereka mencari pekerjaan setelah mereka lulus nanti.
Sejalan dengan pesan Kepala Sekolah saat ini bahwa fasilitas komputer ini harus digunakan sebaik mungkin dalam membantu sistem belajar mengajar agar lulusan MAM tidak gaptek dan mampu  bersaing dalam dunia kerja. (Kawe Shamudra)
 
 
(Naskah diolah berdasarkan hasil wawancara dengan:
Slamet Kamil, sesepuh Muhammadiyah Limpung.
H. Achmad Badjuri, Kepala MAM pertama (1985-1988)
Khuzaini Munar, BA, kepala MAM kedua (1988-2008)
H. Setiyarso, Kepala MAM ketiga (2008-2010)
HM. Furqon Tohar, S.Ag, Kepala MAM keempat (2010-…)
Nurudin Junaedi, S.Ag (alumnus angkatan pertama)


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website