cool hit counter

PDM Kabupaten Batang - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM  Kabupaten Batang
.: Home > Perkembangan Muhammadiyah di Batang

Homepage

Perkembangan Muhammadiyah Daerah Batang

                    UNTUK melihat perkembangan yang terjadi di PDM Batang bisa dilihat melalui tiga tahapan perkembangan, yaitu tahap awal antara tahun 1926 – 1968, periode ini perkembangan Muhammadiyah masih relatif kecil, tahap ini merupakan tahap periode perintisan Ranting dan Cabang Muhammadiyah. Tahap Kedua antara tahun 1968 – 1980, tahap ini merupakan tahap kelanjutan dari periode pertama dan tahap ini merupakan tahap awal berdirinya PDM Batang dan perkembangannya mulai kelihatan membaik. Tahap Ketiga antara tahun 1980 – 2004, periode ini perkembangan PDM Batang mulai kelihatan sangat dinami

Sejak tahun 1966 setelah kembalinya Kabupaten Batang dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan, para tokoh Muhammadiyah melakukan persiapan untuk melakukan pembentukan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Batang. Banyak saran yang masuk, diantaranya dari Pimpinan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, yaitu untuk segera membentuk Pimpinan Daerah Batang.

Setelah melakukan hubungan dengan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dan melalui musyawarah para tokoh pimpinan yang ada di Batang, akhirnya terbentuklah Pimpinan Daerah Kabupaten Batang. Terbentuknya Pimpinan Daerah adalah setelah dua tahun kembalinya Pemerintah Kabupaten Batang dari Pemerintah Pekalongan, tepatnya 1 Januari 1968.

Untuk mengetahui periode perkembangan yang terjadi baik perkembangan kelembagaan, amal usaha dan dakwah mulai tahun 1980 sampai dengan 2004 adalah sebagai berikut :


1.Perkembangan di Bidang Kelembagaan

Maksud dari perkembangan di bidang kelembagaan adalah perkembangan yang ada dan terjadi pada Pimpinan Muhammadiyah Batang yang melioputi perkembangan organisasi, kepengurusan dan kebijakan organisasi dalam hubungannya dengan kemajuan kelembagaan.

 Perkembangan di bidang kelembagaan dibagi menjadi lima periode yaitu :

a.    Periode Tahun 1980 - 1985[1]

             Pada periode ini struktur Kepemimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Batang telah tersusun dengan lengkap, sesuai dengan majelis-majelis yang ada, walaupun telah lengkap tersusun, namun belum bisa berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya seperti yang telah diamanatkan oleh Musyda. System kepemimpinan belum menampakkan struktur kepemimpinan yang Kolegial. Banyak tugas yang menumpuk pada salah satu pimpinan, sehingga perjalanan organisasi kurang sehat dan banyak kendala. Disamping itu, pada periode ini peraturan politik monoloyalitas masih berlaku dan menjadi hambatan bagi Muhammadiyah. Dengan adanya peraturan tersebut Pegawai Negerin Sipil yang menjabat sebagai pimpinan daerah bekerja setengah-setengah. Kuatnya rezim Orde Baru pada waktu itu, benar-benar menghambat gerak langkah dakwah Muhammadiyah. Hambatan yang ada tersebut tidak membuat pimpinan menjadi putus asa. Biarpun hambatan ada, tapi tidak menghalangi untuk berdirinya cabang baru. Cabang baru tersebut adalah PCM Gringsing berdiri tahun 1982, PCM Bandar berdiri tahun 1983, maka sampai akhir tahun 1985 PDM Batang telah memiliki enam PCM. Diantara enam cabang yang ada terdapat tiga cabang yang usianya cukup tua masing-masing adalah PCM Batang, Limpung dan Tersono.

             Sesuai dengan hasil wawancara dengan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Periode 2000 –2005, susunan kepemimpinan periode 1980 – 1985 adalah sebagai berikut :

Ketua                                    :  H. Hamim Toha

Wakil Ketua                         :  Somadun, BA

Wakil Ketua I                       :  SA Karim

sekretaris                              :  A. Badjuri

Wakil Sekretaris                  :  Drs. Syihabudin

anggota                                :  Kaprawi

                                                  H. Sutrisno Kaliri

                                                  H.M. Djimo

             Pada masa kepemimpinan periode tahun 1980 – 1985 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang telah memiliki lima Pimpinan Cabang Muhammadiyah, yaitu : Cabang Muhammadiyah Batang, Subah, Gringsing, Limpung, Tersono.

             Diantara lima cabang yang ada, terdapat tiga cabang yang usianya cukup tua masing-masing Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batang, Limpung dan Tersono. Ketiga cabang pernah menginduk pada pimpinan Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.

             Pada periode tahun 1980 – 1985 PDM Batang mengalami perkembangan di bidang kelembagaan, yaitu dengan berdirinya 2 PCM, masing-masing cabang Gringsing tahun 1982,[2] cabang Bandar tahun 1983,[3] maka sampai dengan akhir 1985 PDM Batang telah memiliki 6 PCM.

b.    Periode Tahun 1985 – 1990

             Pada tahun 1985, setelah muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta, kepengurusan pimpinan dalam Muhammadiyah mengalami perubahan periode, yaitu 5 tahun dalam satu periode dan mulai tahun 1985 inilah peraturan monoloyalitas mulai terasa longgar sehingga kemudian banyak para Pegawai Negeri yang bisa bekerja sebagai pimpinan dengan penuh.

             Setelah peraturan monoloyalitas terasa longgar pemerintah menerapkan peraturan baru, yaitu : Asas Tunggal Pancasila. Peraturan tersebut memaksa seluruh organisasi yang ada, termasuk Muhammadiyah, harus berasaskan Pancasila, namun persoalan ini menjadi masalah milik pusat Muhammadiyah. Pimpinan pusat pada waktu itu dijabat oleh Bapak KH. AR. Fakhrudin. Peraturan ini tidak begitu mengganggu jalannya Muhammadiyah ditingkat Daerah, karena segala persoalan telah diambil alih oleh PP Muhammadiyah.

             Selanjutnya, hasil Musyda PDM Batang menetapkan kepengurusan periode tahun 1985 – 1990, dengan SK PP No. 4 – 4 / SKD / 2261 / 85 / - 90 tertanggal 30 Nopember 1986 menetapkan sebagai pimpinan daerah sebagai berikut[4] :

Ketua                                    :  SUBCHI AR

Wakil Ketua I                       :  SHOMADUN

Wakil Ketua II                      :  SA. KARIM

Sekretaris                             :  A. BADJURI, BA

Wakil Sekretaris                  :  Drs. SOLIKHIN HAYAT

Bendahara                           :  SUTRISNO KALIRI

Wakil Bendahara                :  KHUSAINI MUNAR, BA

Anggota                                :  K. KAPRAWI

                                                  SLAMET MASHAL

                                                  Drs. SYIHABUDIN

                                                  Drs. MULYONO

             Kepemimpinan PDM Batang periode ini didominasi oleh Pegawai Negeri Sipil yang kebanyakan dari para pendatang, hal ini sedikit banyak telah membawa kemajuan dan laju pertumbuhan persyarikatan Muhammadiyah di Kabupaten Batang, karena kehadiran mereka merupakan tambahan asset bagi organisasi Muhammadiyah di Batang.

c.    Periode Tahun 1990 – 1995.

             Pdn- Kabupaten Batang periode Muktamar ke 42 telah berhasil membentuk kepengurusan Pimpinan Daerah beserta majelis-majelisnya. Untuk lebih mengefektifkan gerak persyarikatan, disamping upaya bimbingan dilakukan pula pendelegasian tugas pembinaan pimpinan harian PDM.

             Komposisi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang pada periode tahun 1990 – 1995 adalah sebagai berikut :

Ketua                                    :  SUBCHI AR

Wakil Ketua                         :  H. SHOMADUN, BA

Sekretaris                             :  A. BADJURI

Wakil Sekretaris                  :  Drs. SYIHABUDIN

Bendahara I                         :  H. SOEHARTO

Bendahara II                        :  H. SUTRISNO KALIRI

Anggota                                :  SA. KARIM

                                                  HM. DJIMO

                                                  KUSNAN RIYANTO

             Dari komposisi tersebut pada tahun pertama masa periode PDM terjadi kekosongan personal, dengan mutasi dan promosi jabatan dinas Bapak Drs. Sihabudin sebagai Kepala SMEA Negeri Banjarnegara. Disusul kemudian pada pertengahan periode kepemimpinan PDM Batang, dengan non aktifnya Bapak Subkhi AR, sehubungan dengan kondisi kesehatan beliau yang tidak mengijinkan, untuk berada pada jajaran PDM Batang, maka ditunjuklah Bapak H. Shomadun untuk menjabat ketua sampai akhir periode tahun 1995.

             Disamping telah terbentuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah selanjutnya diambil kebijakan dalam rangka mengupayakan bimbingan untuk PCM. Bimbinagn ini dilakukan olwh pimpinan harian PDM, dengan susunan sebagai berikut :

1.    M. Subchi AR membimbing PCM Gringsing

2.    Shomadun, BA membimbing PCM Limpung

3.    Kusnan Riyanto membimbing PCM Tersono

4.    Ahmad Badjuri membimbing PCM Bawang

5.    Sutrisno Kaliri membimbing PCM Subah

6.    H. Soeharto membimbing PCM Reban

7.    S.A. Karim membimbing PCM Batang

8.    H.M. Djimo membimbing PCM Bandar.

             Dalam bidang administrasi, sebagai upaya untuk mempermudah tugas persyarikatan, diambil pula kebijakan pelaksanaan harian PDM, surat-surat yang ada untuk secara tepat sampai pada sasaran, maka dilakukan pembagian tugas. Tugas dibagi pada 2 wilayah. Wilayah barat dipercayakan kepada : BapakShomadun, BA dan Bapak Kusnan Riyanto, dengan kode surat genap. Untuk wilayah timur, surat-surat yang ada dipercayakan kepada Bapak M. Subchi AR dan Bapak Akhmad Badjuri, dengan nomor kode surat ganjil.

             Pada periode tahun 1990 – 1995, majelis-majelis di tingkat PDM Kabupaten Batang ini sebagai upaya untuk meningkatkan kwalitas dan aktivitas dakwah di berbagai bidang, adapun susunan majelis di PDM Batang adalah sebagai berikut :

1.    Majelis Ekonomi                                 Ketua  :  Suroso

2.    Majelis Tarjih                                       Ketua  :  K. Abdul Mufti

3.    Majelis Tabligh                                   Ketua  :  S.A. Karim

4.    Majelis Dikdasmen                            Ketua  :  yanto Sumarno, BSc

5.    Majelis Wakaf & Kehartabendaan  Ketua  :  Mubin Sanusi

6.    Majelis Pembina Kesehatan            Ketua  :  dr. Bambang Pujianto

7.    Majelis Pembina Kesejahteraan SosialKetua   :  Amar Sujud

8.    Pendidikan kader                               Ketua  :  Drs. Sugito

             Pada periode 1990 – 1995 PDM Batang, mengalami perkembangan yang cukup baik, yaitu dengan terbentuknya 2 kepemimpinan di tingkat cabang, masing-masing adalah :

1.    Terbentuknya PCM Bawang

2.    Terbentuknya PCM Reban

             Melalui pembinaan dan persiapan yang cukup panjang, akhirnya 2 PCM tersebut terbentuk dan menambah jumlah PCM di PDM Batang. Dengan masuknya 2 PCM Reban dan Bandar, jumlah PCM pada periode 1990 –1995 menjadi 8 buah.

d.    Periode Tahun 1995 – 2000[5]

Pada periode ini, PDM Kabupaten Batang, berdasarkan hasil Musyda Muhammadiyah periode Muktamar 42 – 43 tahun 1995 – 2000, yang berhasil memilih PDM yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah sebagai berikut :

Ketua                                    :  H. SHOMADUN, BA

Wakil Ketua I                       :  A. BADJURI

Wakil Ketua II                      :  Drs. SHOLEH

Sekretaris I                           :  Drs. SOLIKHIN HAYAT

Sekretaris II                          :  KHUSAENI MUNAR, BA

Bendahara                           :  H. SUTRISNO KALIRI

Wakil Bendahara                :  H. MUH. DJIMO

Anggota                                :  SA. KARIM

                                                  MUSCACHABUN

                                                  H. KHUSAENI  ES

                                                  KUSNAN RIYANTO

                                                  H. SOEHARTO

             Setelah berhasil memilih PDM dalam acara Musyda, lalu diadakan sidang formatur untuk menempatkan orang pada bagian-bagian yang sesuai dengan keahliannya, maka disusunlah Pimpinan Daerah dengan ketua Bapak H. Shomadun, BA.

             Setelah periode 5 tahun yang lalu menjadi pejabat sementara PDM Batang, menggantikan Bapak Subchi AR, lalu pada periode berikutnya terpilih menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Batang periode 1995 – 2000. pada periode ini di PDM Batang tidak terjadi perkembangan dalam kepemimpinan Muhammadiyah Daerah Batang. Jumlah Pimpinan Cabang tidak bertambah, yaitu masih tetap berjumlah delapan PCM.

             Pada periode 1995 – 2000 PDM Batang mengalami kekosongan 2 pimpinan, masing-masing Bapak Khusaeni ES sebagai anggota PDM yang meninggal pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2000 wafat pula Bapak H. Shomadun, BA yang menjabat sebagai ketua PDM Batang. Dua tahun berturut-turut PDM Batang kehilangan dua tokoh pimpinan.

             Untuk mengisi kekosongan yang ada tersebut, PDM Batang mengadakan musyawarah untuk membicarakan siapa yang akan menggantikannya. Setelah diadakan musyawarah, akhirnya peserta musyawarah memilih Bapak Achmad Badjuri sebagai pejabat sementara ketua PDM Batang, menggantikan Bapak H. Shomadun, BA. Sampai akhir masa jabatan periode kepemimpinan daerah, dan sampai pada terlaksananya Musyda tanggal 14 – 15 Maret 2001 di Kecamatan Tersono.

e.    Periode 2000 – 2004

             Setelah terselenggaranya muktamar ke 44 di Jakarta bulan Juli tahun 2000, dan musyawarah wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah bulan Nopember 2000 di Karanganyar, maka pada tanggal 14 – 15 Maret 2001, PDM Batang menyelanggarakan Musyda, yang bertempat di PCM Tersono.

             Musyda disamping menyusun program kerja, juga telah berhasil memilih PDM Kabupaten Batang periode Muktamar ke 44 Jakarta, sejumlah 13 orang dan telah disyahkan oleh PWM Jawa Tengah dengan Surat Keputusan nomor 033/SKD/IA/16/2001 Tanggal 25 Muharram 1422 H / 19 April 2001 M dengan diketuai oleh Bapak H. Sokheh.

             Berdasarkan hasil keputusan rapat Pimpinan Daerah Muhammadiyah tanggal 17 Juni 2001 telah dirumuskan pembagian tugas masing-masing anggota pimpinan dengan susunan sebagai berikut :

Ketua                                                       : Drs. H. SOLEH

Wakil Ketua I                                          : A. BADJURI

Wakil Ketua II                                         : Drs. SYIHABUDIN

Sekretaris I                                              : Drs. NASIKHIN

Sekretaris II                                             : Drs. CASYANTO

Sekretaris III                                            : H. KHUSAENI MUNAR, BA

Bendahara                                             : H. MUH. DJIMO

Wakil Bendahara                                  : SUBEKTI

Pembina Bidang Keagamaan            : S. ABDUL KARIM

Pembina Bidang Ekonomi & Sosial  : SAHURI NOOR

Pembina Bidang Pendidikan             : H. YANTO SUMARNO, BSc

Pembina Ortom                                     : Drs. SOLIKHIN HAYAT

Pembina Bidang Kelambagaan         : A. MUHGNI, S.Ag

             Pada periode ini, jumlah pimpinan cabang tidak mengalami perubahan, sampai periode 2000 – 2004 jumlah PCM di PDM Kabupaten Batang adalah :

1.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batang

2.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bandar

3.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bawang

4.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gringsing

5.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Limpung

6.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Reban

7.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Subah

8.    Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tersono.

             Guna membantu pelaksanaan tugas pimpinan maka dibentuk Majlis dan Lembaga Tingkat Daerah dengan mengacu pada pediman yang telah diterbitkan oleh PP Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam surat No. 1 – A/12/040/2001 tanggal 23 Januari 2001 M / 28 Syawal 1442 H.

             Perihal pembentukan badan pembantu pimpinan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan PDM Batang dan majelis-majelis yang terbentuk di PDM Batang pada hari Jum’at 7 September 2001 / 18 Jumadits Tsani 1442 H dengan jumlah 7 majelis dan 1 lembaga hikmah yaitu :

1.    Majelis Tarjih dan pengembangan pemikiran Islam 9 anggota.

2.    Majelis Tabligh 9 anggota

3.    Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah

4.    Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan masyarakat.

5.    Majelis Ekonomi

6.    Majelis Wakaf dan Kehartabendaan

7.    Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani

8.    Lembaga Hikmah.

             Disamping lembaga tersebut di atas, juga telah terbentuk : LAZ (Lembaga Amil Zakat).

             Dalam rangka meningkatkan efektifitas kinerja pimpinan yang meliputi aspek kegiatan manajerial, perencanaan, koordinasi, komunikasi, maka dibentuk kantor secretariat dengan memanfaatkan gedung bekas ruang MTs Batang yang sudah tidak terpakai.

             Sebagai salah satu upaya meningkatkan semangat dan ghiroh berorganisasi, telah diselenggarakan pelatihan bersama antara PDM, PCM, PRM, Aisyiyah dan Ortom se Kabupaten Batang serta pimpinan Majelis / Lembaga yang ada. Pelatihan dilaksanakan pada hari Ahad 14 Oktober 2001 dengan beberapa kegiatan :

1.    Tabligh Akbar dengan pembicara Prof. DR. HM. Dien Syamsudin untuk ketua PP Muhammadiyah.

2.    Pawai Ta’aruf yang diikuti oleh para pemimpin yang akan dilantik, warga Muhammadiyah dan siswa-siswi sekolah Muhammadiyah dan kelompok kesenian.

3.    Acara pelantikan yang dipusatkan di gedung pertemuan umum Kabupaten Batang jam 14.00 WIB.

             Pelantikan secara massal dilaksanakan oleh PWM Jateng, yang dihadiri oleh Bapak Drs. Musman Thalib (Wakil Ketua PWM Jateng).

             Adapun untuk mengetahui perkembangan di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Batang pada tiap periode dapat dilihat pada tabel  di bawah ini :

No.

Periode

Perkembangan Cabang

Keterangan

1.

Sebelum 1980

4 cabang*

Awal

2.

1980 – 1985

2 cabang

Naik

3.

1985 – 1990

-

-

4.

1990 – 1995

2 cabang

Naik

5.

1995 – 2000

-

-

6.

2000 – 2004

-

-

Jumlah Cabang = 8 PCM

* Tahun diluar batasan penelitian

  1. Perkembangan di Bidang Amal Usaha

             Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan sejak awal berdirinya sampai dengan sekarang ini, selalu responsive terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negara. Bentuk kepedulian Muhammadiyah tersebut adalah dengan berdirinya lembaga-lembaga amal usaha Muhammadiyah. Mulai dari lembaga pendidikan, panti yatim, lembaga ekonomi, dan lembaga sosial lainnya banyak bermunculan dan bertebaran di seluruh Indonesia.

             Tidaklah berlebihan, apabila Dr. Nurcholis Majid (Dosen Pasca Sarjana IAIN Jakarta) mengatakan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi kaum modernis terbesar di dunia, dengan begitu besar semangat dan banyak kiprahnya bagi usaha-usaha perbaikan kemauniaan. Demikian pula dengan Dr. Taufik Abdullah (peneliti ahli LIPI) yang mensinyalir bahwa dengan beragamnya bidang kegiatan Muhammadiyah dari segi volume dan kwantitasnya, menandakan bahwa Muhammadiyah hingga saat ini tidak bisa ditandingi oleh organisasi manapun.

             Memang sudah menjadi persyaratan bagi berdirinya suatu cabang/ranting Muhammadiyah di suatu daerah, untuk mendirikan amal usaha sehingga syarat yang harus dipenuhi untuk berdirinya ranting/cabang.

             Namun, secara kwantitas dan intensitas kegiatan amal usaha yang dimiliki oleh setiap PRM, PCM, PDM dan PWM sangat berbeda-beda. Besar kecilnya amal usaha yang dimiliki oleh PRM, PCM, PDM sangat berbanding lurus dengan kwantitas dan kwalitas warga Muhammadiyah.

             Amal usaha yang ada pada Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang secara kwantitas dan kwalitas masih harus dibenahi. Amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah seperti bidang pendidikan, belum bisa bersaing dengan Sekolah Negeri. Karena mutu pendidikan Sekolah Negeri masih lebih unggul dibanding dengan Sekolah Muhammadiyah. Oleh karena itu, minat orang tua untuk memasukkan anaknya di Sekolah Negeri masih sangat besar, dibanding minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga Muhammadiyah. Dan para orang tua menentukan pilihan di sekolah Muhammadiyah setelah anaknya tidak diterima di Sekolah Negeri. Inilah fenomena yang terjadi di PDM Batang.

  1. Perkembangan Amal Usaha

             Untuk mengetahui perkembangan amal usaha Muhammadiyah periode demi periode, yang terjadi di PDM Batang, yang selanjutnya penulis bagi menjadi 5 periode, seperti di bawah ini :

a.    Periode (pertama) tahun 1980 – 1985[6]

             Sebelum periode ini, PDM Batang telah memiliki amal usaha dibidang pendidikan yaitu 1 buah SLTA (MAM) yang berlokasi di Batang. Sekolah ini berdiri tahun 1978, 2 buah SLTP (MTSN) masing-masing terletak di Tersono, berdiri tahun 1968 dan di Batang, berdiri tahun 1979, dua buah Madrasah Ibtida’iyah, yang terletak di Tersono, keduanya berdiri tahun 1954 dan 1970. Pesantren Tarsikhul Ulum, juga terletak di Kecamatan Tersono dan PGAP (Persatuan Guru Agama Pertama) juga pernah berdiri di tahun 1975 dan kini telah membubarkan diri.

             Kesemua amal tersebut diatas adalah amal usaha yang dimiliki oleh PDM Batang sebelum tahun yang menjadi penelitian penulis. Amal tersebut dikelola oleh masing-masing cabang.

             Sedangkan perkembangan yang terjadi pada periode tahun 1980 – 1985 adalah satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) Muhammadiyah) berlokasi di Tersono berdiri tahun 1982.

b.    Periode Tahun 1985 – 1990[7]

             Pada periode ke dua, amal usaha dibidang pendidikan terus mengalami perkembangan, walaupun jumlahnya tidak banyak. Amal usaha dibidang pendidikan pada periode ini, bertambah 2 buah. Masing-masing adalah SMU Muhammadiyah berdiri pada tahun 1987 yang berlokasi di Kecamatan Tersono dan Madrasah Aliyah Muhammadiyah berdiri tahun 1985, berada di Kecamatan Limpung.

             Kemudian berdiri pula satu buah panti asuhan yatim piatu “ Umar Bin Khotob” di Cepoko Kuning Batang, tahun 1990, dan TK ABA (Aisyiyah Bustanul Athfal) masing-masing di Kecamatan Bawang, lpb, Batang dan Kecamatan Tersono.

c.    Periode Tahun 1990 - 1996[8]

             Pada periode ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Batang terus melakukan penambahan investasi amal usaha. Investasi pada periode ini berbeda dengan periode sebelumnya. Pada periode ini lebih berorientasi pada pergerakan ekonomi. Pada periode sebelumnya amal suaha yang berdiri adalah lembaga pendidikan. Untuk periode ini, hanya ada satu lembaga pendidikan yang berdiri, yaitu TK ABA yang berlokasi di Kecamatan Subah.

             Tidak berkembangnya amal usaha di bidang pendidikan, pada periode ini, adalah karena PDM dan PCM se Kabupaten Batang sedang berkomunikasi mendirikan lembaga yang bergerak di bidang ekonomi.

             Pengembangan usaha ekonomi ini adalah program inisiatif dari PP Muhammadiyah Majelis Ekonomi, yang pada saat ini setiap cabang dan daerah mengirimkan utusannya, masing-masing dua orang, sebagai motivator yang nantinya dipersiapkan untuk cabang. Pelatihan motivator bertempat di Lembang Bandung selama tiga hari.

             Lembaga milik Muhammadiyah ini disebut dengan LKM (Lembaga Keuangan  Masyarakat) atau LKMS (Lembaga Keuangan Matahari Sekunder) yang bergerak di bidang jasa simpan pinjam.

             Dana untuk pengembangan usaha ini diperoleh dari saham para anggota dan juga dari bantuan LPM SDM (Lembaga Pengembangan Modal Sumber Daya Manusia) Jakarta.

             Amal usaha yang digarap oleh PDM dan PCM sanat menggembirakan. Disetiap cabang bermunculan lembaga yang bergerak di bidang jasa simpan pinjam. Dari data PDM Batang, pada periode tahun 1990 – 1995, terbentuk lembaga keuangan yang masing-masing berdiri di :

1.    PCM Tersono dengan anggota 450 orang

2.    PCM Limpung dengan anggota 300 orang

3.    PCM Gringsing dengan anggota 150 orang

4.    PCM Bawang dengan anggota 75 orang

5.    PCM Subah dengan anggota 80 orang

6.    PCM Reban dengan anggota 40 orang

7.    PCM Bandar dengan anggota 150 orang

8.    PCM Batang dengan anggota 50 orang

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel seperti berikut ini :

Tabel 13

Tabel Lembaga Ekonomi di PDM Batang

No

PCM

Jml LKMP

Jml Anggota

Modal Sendiri

Pinjaman

Jml Modal (Juta)

LPM SDM

Y B M

1

Tersono

5

450

80.000.000

125.000.000

-

205

2

Limpung

4

300

11.000.000

-

-

11

3

Gringsing

2

150

12.000.000

-

-

12

4

Bawang

1

75

1.500.000

-

2.000.000

3,5

5

Subah

1

80

90.000

-

-

0,9

6

Reban

1

40

500.000

-

-

0,5

7

Bandar

3

150

1.500.000

-

-

3

8

Batang

1

50

500.000

-

-

2,5

JUMLAH

18

1.295

107.900.000

125.000.000

5.500.000

228,4

       LKPM        (Lembaga Keuangan Matahari Primer

       LPM           (Lembaga Pinjaman Modal)

       YBMM       (Yang Bukan Modal Muhammadiyah)

       LKMS        (Lembaga Keuangan Matahari Sekunder I)

             Dalam perkembangan LKMS I sudah melayani kredit Kendaraan roda 2, barang-barang konsumsi dan penanganan emping melinjo.

             Perkembangan di bidang lainnya yaitu ASADAS (Asuransi Dana Santunan) pada periode ini sudah berjalan, namun belum maksimal. Dari jumlah 8 PCM yang ada di PDM Batang, baru 5 PCM yang telah mengikuti ASADAS, dari kelima cabang tersebut yaitu :

1.    PCM Subah

2.    PCM Limpung

3.    PCM Tersono

4.    PCM Reban

5.    PCM Bawang

             Sedangkan 3 PCM lainnya yang belum mengikuti program ASADAS adalah : PCM Gringsing, Subah dan Bandar. Jumlah peserta ASADAS sampai dengan akhir tahun 1995 tercatat 873 anggota,  dengan  jumlah  dana  yang  terkumpul  mencapai      Rp.2.169.000,-

             Untuk BAPELURZAM (Badan Pengelola Urusan Zakat Amwal) pada periode ini belum bisa terealisasikan dengan baik. Perkembangannya tidak bisa merata pada tiap cabang.

d.    Periode Tahun 1995 – 2000

             Pada periode ke empat, tidak terjadi perkembangan amal usaha, seperti pada periode sebelumnya. Periode ini kelihatan fakum, karena tidak nampak ada amal usaha yang berdiri. Hal ini bukan berarti PDM sepi dari kegiatan. Tapi PDM Batang sedang berkonsentrasi pada pembenahan kwalitas amal usaha yang dimilikinya. Pembenahan bertahap yang dilakukan ini dalam rangka menghadapi persaingan yang akhir-akhir ini bermunculan bagaikan jamur di musim penghujan. Maka sudah seharusnya dan sangat mendesak untuk membenahi manajemen kwalitas lembaga pendidikan, lembaga ekonomi dan lembaga sosial lainnya di jajaran PDM Batang, untuk bisa bersaing dengan kompetiter lainnya.

             Ada dua manajemen kwalitas yang dilakukan oleh PDM Batang, Pertama kwalitas fisik, ini berupa renovasi dan inovasi gedung/mutu bangunan. Kedua yaitu : Membenahi mutu lulusan. Lulusan bisa bermutu kalau lembaga pengelola dan pengajarnya berkwalitas tinggi. Dua hal inilah yang sedang menjadi bidang garapan PDM Batang untuk memenuhi tuntutan kwalitas dalam rangka menghadapi persaingan.

             Usaha PDM yang dalam hal ini ditangani oleh Majelis Dikdasmen, antara lain dengan mengkoordinasikan pendidikan tingkat dasar dan menengah mengikutsertakan guru dalam penataran bidang studi khusus/mata pelajaran khusus, di tingkat daerah ataupun wilayah. Melakukan study banding ke sekolah-sekolah unggulan dan menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan yang lebih maju.

             Disamping itu PDM Batang juga aktif mengirimkan para guru yang ada di lingkungan Muhammadiyah untuk mengikuti training di tingkat daerah/wilayah guna meningkatkan profesionalisme guru dalam mengajar.

             Selanjutnya PDM Batang melakukan verivikasi amal usaha di bidang ekonomi, yaitu : LKM – LKM yang telah berdiri pada periode 5 tahun yang lalu, yang kondisinya kurang sehat, karena kurang adanya pengawasan, kurang amanahnya para pengelola dan adanya kredit macet dari nasabah, maka diambil tindakan untuk melakukan penyehatan lembaga tersebut dengan restrukturisasi dan audit rehabilitasi dan lain sebagainya.

             Langkah ini diharapkan mampu untuk mengatasi masalah yang terjadi di lembaga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

e.    Periode Ke Lima (Tahun 2000 – 2004)

             Setelah periode 5 tahun yang lalu, PDM melakukan upaya peningkatan kwalitas amal usaha yang dimilikinya. Maka pada memasuki periode kelima ini, mulai nampak perkembangannya. PDM bersama dengan PCM terus aktif melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga atau institusi pemerintah dalam rangka mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Batang.

             Pada periode ini, PDM Batang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dalam bidang pendidikan, berdiri SMK Teknologi (Muhammadiyah) yang berlokasi di Kecamatan Bawang, tahun 2002 dan SMK Muhammadiyah berlokasi di Batang berdiri tahun 2001. kemudian, PDM Batang berhasil melakukan rehab gedung MTS Muhammadiyah Batang, dengan menelan biaya Rp.100.000.000,- dari bantuan APBD.

             Perkembangan lainnya yang cukup menggembirakan bagi Muhammadiyah beserta otonominya adalah : masuknya MTsM Kecamatan Tersono menjadi sekolah target tingkat Jawa Tengah, pada 1 Mei 2003. masuknya MTsM Tersono menjadi sekolah percontohan se Propinsi dan dikunjungi oleh 150 Kepala Sekolah se Propinsi Jawa Tengah pada 11 April 2003[9]

             Pada periode ini. LKM yang telah terpuruk mulai bangkit kembali, sekaligus berubahnnama menjadi BMT (Bank Muamalat) / BTM (Baitul Tanwil Muhammadiyah). Dan perkembangan BMT sangat menggembirakan, disamping sebagai alat/metode dakwah, BMT tersebut talah mampu menghidupi AUM (Amal usaha Muhammadiyah).

             Cabang yang telah memiliki BMT adalah :

1.    PCM Gringsing berdiri tahun 2001, yang sampai dengan tahun 2004 , asetnya telah mencapai 200.000.000 dan terus berkembang.[10]

2.    PCM Tersono berdiri tahun 2000, asetnya mencapai 250.000.000/300.000.000. BMT ini mendapat pembinaan dibawah pengawasan dan pengembangan BMT Pekajangan, Pekalongan.

3.    PCM Bawang, berdiri tahun 2001, asetnya mencapai 150.000.000 – 200.000.000 dan terus berkembang.

4.    PCM Bandar, berdiri tahun 2003, asetnya mencapai 25.000.000 – 50.000.000.

5.    PCM dan PDM Batang, berdiri tahun 2004 atas kerjasama dengan BMT Pekalongan, asset awal mencapai 100.000.000.

6.    PCM Subah, belum berubah, masih berbentuk LKM. Perkembangannya lamban, karena tidak ditangani secara professional. Asetnya sampai dengan tahun 2004, mencapai 26.000.000 dan sedang diupayakan untuk dijadikan BMT.

             Sedangkan PCM lain yang sedang mengupayakan untuk mendirikan BMT adalah PCM Limpung, yang sedang merintis berdirinya BMT yang merupakan plasma serta dibawah bimbingan PCM Sukorejo Kendal.

             Adapun kegiatan ASADAS dan KATAM sampai saat ini belum terealisasikan, namun untuk BAPELURARZAM (Badan Pelaksana Urusan Zakat Muhammadiyah) telah dimulai di beberapa PCM/PRM dengan hasil yang belum maksimal namun terus menunjukkan peningkatan. PDM dan PCM terus melakukan sosialisasi ke segenap warga dan simpatisan Muhammadiyah, untuk sadar berzakat ammal. Dan di tiap cabang telah terbentuk LAZ (Lembaga Amil Zakat) sedang di tingkat ranting dibentuk UPZ (unit Pengumpul Zakat).

             Dibidang kesehatan, PDM Batang sedang melakukan kerjasama dengan PDM Kendal, dalam upaya pendirian Rumah Sakit Islam, yang sampai hari ini belum terealisasikan. Insya Allah Rumah Sakit Islam tersebut akan segera terwujud.

             Sampai dengan periode ke 5, tahun 2000 – 2004 PDM Batang telah memiliki amal usaha dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi walaupun belum mencapai taret maksimal.

Untuk lebih memudahkan dalam melihat setiap perkembangan, bisa dilihat tabel dibawah ini :

Tabel 14

TABEL AMAL USAHA PDM BATANG

No

Periode

Jenis Amal Usaha

Jumlah

Ket

1

1980 – 1985

    Pendidikan

MAM

MTsM

TK ABA

PONPES (Tarsikhul Ulum)

SLTP (SMP)

MIM

    Sosial

    Ekonomi

 

1

2

6

1

1

2

-

-

 

Naik

Naik

Naik

Naik

Naik

Naik

-

-

2

1985 – 1990

    Pendidikan

MIM

SMU

MAM

TK ABA

    Sosial

Panti Asuhan

    Ekonomi

 

2

1

1

2

 

-

 

Naik

Naik

Naik

-

 

naik

3

1990 – 1995

    Pendidikan

SMU / MAM

SLTP MTS

SD / MIM

TK ABA

    Sosial

    Ekonomi

LKM

BAPELURZAM

 

-

-

-

1

 

 

8

4

 

 

 

 

Naik

 

 

Naik

Naik

4

1995 – 2000

    Pendidikan

SMU / MAM

SLTP / MTsM

SD / MIM

TK ABA

    Sosial

    Ekonomi

 

-

-

-

-

 

5

2000 – 2004

    Pendidikan

SMU / SMK

SLTP / MTS

SD / MI

TK ABA

    Ekonomi

BMT

    Sosial

Kesehatan

 

2

-

-

-

 

6

 

-

 

Naik

-

-

-

 

naik

 

-

 

 

Jumlah : a. Pendidikan 23 termasuk TK ABA

    b. Sosial 1 buah

    c. Ekonomi* 6 buah BMT

* Ekonomi     : LKM yang ada,berubah dan berkembang menjadi BMT

* Kesehatan : Masih dalam tahap realisasi

 

  1. Perkembangan di Bidang Dakwah

                Ketika KH. A. Dahlan mendirikan persyarikatan Muhammadiyah sekitar tiga perempat abad yang lalu, masyarakat Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Sedangkan umat Islam sebagai mayoritas bangsaind masih tenggelam dalam rawa-rawa keterbelakangan dan praktek keagamaan yang dibumbui dengan takhayul, bid’ah dan khurofat.

                Secara garis besar, ada dua hal yang ingin dikerjakan oleh K.H. Ahmad Dahlan secara serempak yaitu, pertama, melepaskan umat Islam dari kungkungan takhayul, bid’ah, khurofat yang membelenggu umat dari pemahaman tauhid yang benar. Dan kedua, memajukan pendidikan umat Islam dengan memberikan angkatan mudanya ilmu-ilmu Barat dalam rangka merebut kebahagiaan dunia yang memang harus dikejar umat Islam.

                Dalam bidang dakwah, Muhammadiyah yang sudah sejak awal melakukan pembersihan pemahaman yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Seperti tradisi-tradisi masyarakat Jawa pada umumnya yang sampai hari ini masih berkembang, antara lain, melakukan selamatan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya, yasinan, berjanji, acara membakar kemenyan tiap malam Jum’at, ziarah di tiap Jum’at Kliwon, membawa bunga ke kuburan, sedekah bumi, laut dan lain-lain.

                Dakwah Muhammadiyah juga diarahkan kepada pembenahan arah kiblat, mensosialisasikan sholat di lapangan, mendirikan sekolah, rumah yatim, sadar qurban, berzakat dan shodaqoh.

                Garapan dakwah Muhammadiyah cakupannya cukup luas. Kalau disimpulkan ada dua : Dakwah Vertikal dan Horisontal. Vertical menyangkut masalah Ubudiyah dan Horisontal menyangkut masalah-masalah Mu’amalah Duniawiyah (kontek sosial).

                Dalam melakukan dakwah tersebut, tidak pernah sepi dari hambatan dan rintangan. Setiap ada aksi, reaksi terus berdatangan. Namun hal ini tidak mengendorkan semangat para da’I Muhammadiyah. Mulai dari keluarga, famili, temab dekat, dari mushola ke mushola dan seterusnya, menjadi lahan/obyek dakwah Muhammadiyah.

                Dari awal faham ini masuk, tahun 1926 (sebelum Indonesia merdeka) sampai dengan periode 1980 – 2004 (penelitian penulis). Mulai tampak hasilnya di Kabupaten Batang. Untuk mengetahui perkembangan dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah, periode demi periode, mulai tahun 1980 – 2004 selengkapnya adalah sebagai berikut :

a.    Periode Tahun 1980 – 1985

                Sebelum tahun ini, dakwah yang dilakukan oleh para da’I Muhammadiyah belum begitu luas. Dan orang-orang Muhammadiyah masih bisa dihitung dengan jari. Dakwahnya pun masih dalam skala yang sempit, yaitu keluarga terdekat. Kemajuannya belum begitu tampak. Namun telah dapat memberi pangaruh pada lingkungan walaupun belum begitu luas, masih sebatas famili dan keluarga dekat.

                Hambatan yang ada pada waktu itu adalah dari kelompok Islam tradisionalis, Islam abangan, yang sangat memegang dan mentradisikan adat. Karena adat pada waktu itu, sangat tidak suka bila tradisi tersebut dihilangkan. Dengan demikian upaya yang dilakukan oleh para da’I Muhammadiyah selalu mendapat reaksi dan tantangan dari pihak tersebut.

                Hambatan yang lain, yang ikut mempengaruhi perkembangan dakwah Muhammadiyah adalah tentang Peraturan Pemerintah yang mengharuskan setiap ada pengajian yang melibatkan orang banyak, dan pembicara da’I dari luar, harus lebih dahulu melapor kepada pihak aparat keamanan, ini terjadi sampai awal tahun 1980-an.

                Perkembangan yang tejadi tahun 1980 – 1985 mulai membaik. Dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah sudah mulai menyebar ke tingkat yang cukup luas, karena pada periode ini Muhammadiyah telah memiliki masjid sebagai tempat/pusat dakwah.

                Pada peeriode ini, syi’ar dakwah Muhammadiyah mulai kelihatan, dengan diselenggarakannya sholat Id di lapangan, membantu pada dhu’afa, anak yatim dan kegiatan masjid lainnya.

                Dengan adanga dakwah Muhammadiyah ini masyarakat sedikit memahami hakikat Islam sebenarnya. Kesadaran beragama masyarakat mulai tumbuh sedikit demi sedikit ada peningkatan, walaupun tidak pesat.

b.    Periode Tahun 1985 – 1990

                Perkembangan yang dicapai pada periode ini, merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya. Program dakwah pada tahun ini merupakan pelaksanaan hasil Musyda PDM untuk bidang-bidang yang berkaitan dengan kepentingan pembinaan dan pengembangan persyarikatan khususnya dalam bidang dakwah. Sehingga program kerja yang belum/tidak berhasilm dilaksanakan pada periode sesudahnya, tetap diusahakan masuk program kerja yang akan datang.

                Penyusunan program kerja PDM dalam bidang dakwah tahun 1985 – 1990 diprioritaskan pada peningkatan kualitas Sumber Daya manusia. Peningkatan kualitas dan pengembangan amal uhasa sebagai sarana dakwah, serta perluasan sasaran dakwah Muhammadiyah.

                Dakwah yang dilakukan sekolah Muhammadiyah pada tiap kesempatan, adalah pentingnya membersihkan diri dari pada penyakit “syirik”. Tema ini selalu actual di setiap seruan dakwah Muhammadiyah. Selain hal tersebut, PDM Kabupaten Batang, juga mengupayakan pengkaderan pada tiap cabang-cabang. Pengkaderan ini dimaksudkan sebagai upaya mencari jawaban terhadap krisis di PDM Batang.

                Langkah lain yang dilakukan PDM dalam bidang keagamaan dan tabligh adalah, mendatangkan mubaligh hijrah dari wonosobo untuk melakukan pembinaan keagamaan warga Muhammadiyah dan simpatisan di cabang-cabang. Kedatangan KH. M. Zaed pada tiap 1 bulan sekali, untuk dakwah di cabang-cabang, penting artinya dan memberi semangat seperti dalam beragama dan bermuhammadiyah.

                Kesadaran beragama masyarakat semakin terlihat kuat, praktek-praktek bid’ah kurofat mulai mabyak ditinggalkan. Warga yang menjadi anggota dan simpatisan Muhammadiyah semakin bertambah banyak, dakwah selalu gencar dilaksanakan, purifikasi ajaran Islam selalu berjalan kontinue di setiap pengajian-pengajian, ranting dan cabang.

                Oleh karena sosio-agama warga masyarakat masih kental dengan tradisi budaya ajaran masyarakat jawa. Ukuran keberhasilan dakwah Muhammadiyah masih jauh dari harapan. Masih luas lahan dakwah yang belum tergarap oleh Muhammadiyah.

c.    Periode Tahun 1990 – 1995

                Perkembangan yang dicapai pada periode ini dalam bidang dakwah adalah melakukan pembinaan keagamaan ke cabang-cabang yang ada. Pembinaan yang dilakukan ini bersifat pendalaman materi-materi aqidah dan pelaksanaan hokum Islam misalnya, sholat yang sesuai tuntutan Rasul, bagaimana berzakat (khusus zakat ammal).

                Dalam periode ini Muhammadiyah Kabupaten Batang mulai menyelenggarakan kegiatan pengkaderan secara khusus, pengkaderan dilakukan dengan melakukan pembinaan pada ortom-ortom dari angkatan muda khususnya, antara lain : melalui materi keagamaan seperti aqidah Islam, pendalaman kajian Al-Qur’an, dan pendalaman materi kajian Hadits dan juga melalui diklat-diklat seperti kegiatan Darul Arqom dan lain-lain.

                Kegiatan pengajian yang diselenggarakan pada periode ini sudah cukup aktif di tiap-tiap Pimpinan Cabang Muhammadiyah baik pengajian satu bulan sekali, tengah bulanan, atau tiap minggu. Selain kegiatan pengajian juga dilakukan peningkatan hubungan dan kerjasama dengan berbagai pihak seperti instansi terkait maupun antar dan inter organisasi kemasyarakatan Islam yang ada dalam menjalin ukhuwah dan kerjasama bidang dakwah.

                Meningkatkan kerjasama dengan pemerintah maupun pihak swasta dengan pihak-pihak terkait. Pada tahun ini PPM memberikan paket bantuan masjid seperti di Rejosari Tersono, Kebonan Kecamatan Batang dan di PCM Bawang.

                Upaya dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah pada periode ini juga tak lepas dari melakukan pemberantasan berbagai penyakit yang menjangkiti umat Islam. Penyakit kronis dan sangat mengakar antara lain : syirik, ini banyak macam dan jenisnya. Memuja makam, mengkeramatkan benda-benda tertentu, mebghitung hari baik dan buruk, meminta pada selain Allah, dan lain-lain. Macam penyakit-penyakit tersebut sering dikenal dengan istilah TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat).

d.    Periode Tahun 1995 – 2000

                Dalam bidang keagamaan dan tabligh, langkah yang dilakukan oleh PDM adalah meningkatkan wawsan keagamaan pimpinan dengan mengirimkan majlis-majlis untuk mengikuti penataran atau pengajian dan pertemuan yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Majelis Tarjih Tingkat wilayah.

                Program kerja PDM Kabupaten Batang tahun 1995 – 2000 ini merupakan kelanjutan/rangkaian program pada periode sebelumnya dan merupakan pelaksanaan hasil muktamar Muhammadiyah ke 43 untuk bidang-bidang yang berkaitan langsung dengan kepentingan dan pembinaan pengembangan persyarikatan di daerah Batang.

                Peningkatan konsolidasi gerakan di daerah Batang dan peningkatan kualitas gerakan dakwah dengan memperluas sasaran dan sarana dakwah, sebagai wahana perjuangan persyarikatan, dalam melaksanakan misi untuk mencapai cita-citanya.

                Prioritas program PDM, adalah pengembangan pemikiran dan wawasan Islam, adalah kualitas SDM, peningkatan kualitas dan pengembangan amal usaha sebagai sarana dakwah, serta perluasan sasaran dakwah Muhammadiyah.

                Jenis program kerja dakwah Muhammadiyah yang lainnya antara lain :

1.    Religiusitas kebudayaan dan pengembangan wawasan keislaman.

2.    Pendidikan dan pengembangan SDM

3.    Pembinaan ekonomi dan kesejahteraan

4.    Dakwah pengembangan masyarakat Islam yang potensial

5.    Kaderisasi.

e.    Periode Tahun 2000 – 2004

                Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah Amar Makruf Nahi Munkar yang bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi Allah SWT.

                Pada periode ini PDM melakukan pembinaan dan pengembangan kemampuan professional mubaligh. Antara lain dengan :

a.    Mengirimkan mubaligh/pimpinan persyarikatan untuk mengikuti pelatihan dakwah/jurnalistik yang diselenggarakan oleh pimpinan wilayah.

b.    Mengembangkan hasil dakwah/jurnalistik di daerah, cabang dan ranting Muhammadiyah.

c.    Pelatihan kemampuan menyusun konsep map dakwah di daerah cabang dan ranting Muhammadiyah.

d.    Mengadakan pelatihan ketrampilan dan menghimbau (menumbhkan minat) untuk menulis artikel, cerpen, buku dan lain-lain bagi mubaligh dan pimpinan persyarikatan.

e.    Peningkatan mutu intelektual dan pendidikan mubaligh melalui sekolah, kursus yang diprogramkan oleh pimpinan wilayah maupun pimpinan pusat Muhammadiyah dengan memanfaatkan jaringan masjid dan pengajian, bekerjasama dengan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang lebih maju atau perguruan tinggi Muhammadiyah.

f.     Peningkatan kehidupan ekonomi mubaligh dan pimpinan persyarikatan.

g.    Pengembangan jaringan informasi dakwah di cabang-cabang/ranting-ranting dalam rangka meningkatkan konsolidasi dan mobilisasi kegiatan mubaligh.

               Mengupayakan peran serta dan fungsi dalam pendidikan kader, pelaksanaan evaluasi pengkaderan maupun pembinaan kader dalam amal usaha persyarikatan.

               Dan dalam periode ini, di tiap pimpinan cabang telah memiliki tempat ibadah, mushola dan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah Muhammadiyah.

               Dakwah yang telah dilakukan Muhammadiyah dari awal, hingga periode tahun 2004 ini, terus berkembang dan menyebar ke tingkat desa-desa. Dan ajaran Islam yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, sebagai landasan utama ajaran Islam.

Tabel 15

PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DAERAH BATANG

BIDANG DAKWAH SAMPAI TAHUN 2004

No

Periode

Aktivitas Dakwah

Perkembangan

1.

Sebelum Periode 1980

-       Mengajarkan tentang Dinul Islam

-       Mengajarkan tauhid

-       Sumber utama dalam ber Islam

-       Tafsir Qur’an – Hadits

-       Pelajaran sifat-sifat Allah (Asmaul Husna)

-       Tujuan didirikannya Muhammadiyah

-       Dakwah dari rumak ke rumah

-       Merintis tempat ibadah

 

 

Mulai ada sedikit pemahaman tentang Islam

2

1980 – 1985

-       Pengajian rutin di cabang

-       Mengajarkan tentang tauhid

-       Ibadah yang benar

-       Pendalaman Al-Qur’an

       Terjemahan

       Tafsir

-       Bahaya syirik

-       Dialog/Tanya jawab

-       Menggalakkan darul arqom

Mengalami penindkatan

 

 

 

 

 

Pada tiap tahun PDM/PCM

3

1985 – 1990

-       Melakukan kerjasama dengan pihak terkait

-       Pemberantasan TBC*

-       Pengkaderan

-       Bimbingan mengurus jenazah

-       Mengadakan pengajian keliling ibu-ibu 1 minggu sekali

 

 

Penyakit TBC mulai hilang

 

Kesadaran membaik

4

1990 – 1995

-       Pengajian rutin PDM, PCM, PRM**

-       Pembinaan kader

-       Mengirim mubaligh untuk penataran

-       Bermuhammadiyah

-       Darul arqom

Aktif tiap bulan

 

 

 

 

 

Tiap Ramadlon

5

1995 – 2000

-       Pengembangan wawasan ke Islaman

-       Peningkatan SDM

-       Konsolidasi gerakan

-       Memperluas sasaran dakwah

-       Kaderisasi

-       Pengembangan masyarakat Islam yang potensial

Semakin meningkat kualitas jama’ah

6

2000 – 2004

-       Mengirim mubaligh ke tingkat daerah / wilayah

-       Pelatihan jurnalistik mubaligh

-       Membuat peta dakwah

-       Pendidikan mubaligh

-       Peningkatan mutu kehidupan ekonomi mubaligh

-       Pengembangan jaringan informasi dakwah dan mobilisasi kegiatan dakwah

Mulai ada ghiroh dalam memahami Islam

 

 

Makin tinggi tingkat kesadaran pimpinan

 

 

A.   KECAMATAN YANG BELUM TERBENTUK KEPEMIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH

                   Kabupaten Batang yang terdiri dari 12 Kecamatan, belum kesemuanya memiliki kepengurusan/pimpinan cabang Muhammadiyah. Pimpinan cabang Muhammadiyah di Kabupaten Batang, dari 12 Kecamatan yang ada baru 8 Pimpinan Cabang Muhammadiyah yang terbentuk. Delapan cabang tersebut telah diuraikan di depan. Sedangkan empat cabang kecamatan yang belum terbentuk kepemimpinan cabang Muhammadiyah akan diuraikan seperti di bawah ini. Empat cabang tersebut masing-masing :

1.    Kecamatan Blado

             Kecamatan Blado yang memiliki luas 86,668 Km2 membawahi 20 desa, dengan jumlah penduduk 47.356 jiwa.

             Letak Kecamatan Blado, sebalah utara berbatasan dengan Kecamatan Subah, sebalah selatan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bandar dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Reban.

             Pemeluk agama Islam 47.278 jiwa, katholik 47 jiwa, Protestan 27 jiwa, Budha 2 dan Hindu 2 orang. Banyaknya tempat ibadah yang ada di Kecamatan Blado yaitu Masjid 66 buah, Mushola 200 dan tempat ibadah lainnya kosong.

             Sampai dengan tahun 2004 belum terbentuk kepemimpinan cabang Muhammadiyah. Sel-sel Muhammadiyah di Kecamatan Blado, ada di Desa Pagilaran, kawasan Pabrik Teh.

             Kawasan para pendatang dari Yogyakarta, sebagai Pegawai Pabrik, dan kekuatan faham di Pagilaran belum begitu mengakar dan belum terorganisir dengan baik. Dan masih perlu dan membutuhkan uluran tangan atau pembinaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang serta dukungan psikologis dari cabang-cabang lain. Dan tidak tertutup kemungkinan untuk membentuk kepemimpinan tingkat cabang.

2.    Kecamatan Tulis

             Letak Kecamatan Tulis adalah di jalur Pantura. Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Wonotunggal, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Batang dan Kabupaten Batang dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Subah.

             Kecamatan Tulis memebawahi 23 desa dengan luas wilayah …….. km2. Jumlah penduduk Kecamatan Tulis tahun 2004 67.137 jiwa. Mayoritas masyarakat beraga Islam, dengan jumlah 64.882 orang, Katholik 163 orang, Protestan 53 orang, Budha 25 orang dan Hindu 14 orang. Tempat ibadah, Masjid berjumlah 33 buah, mushola 190 dan gereja 1 buah.

             Sampai dengan tahun 2004 ini Kecamatan Tulis belum memiliki Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Sel-sel atau orang-orang yang berfaham Muhammadiyah dimungkinkan ada. Namun tidak berani menampakkan faham tersebut secara terang-terangan. Mereka adalah dari para pendatang yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di wilayah Kecamatan Tulis.

             Potensi yang masih tersembunyi tersebut biasa dimanfaatkan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah sebagai wahana dakwah Muhammadiyah.

3.    Kecamatan Wonotunggal

             Kecamatan Wonotunggal memiliki luas wilayah 55,113 Km2. dengan jumlah penduduk 33,471 jiwa. Letak Kecamatan Wonotunggal sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Batang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bandar, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tulis, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Warungasem.

             Kecamatan Wonotunggal memiliki/membawahi 16 desa. Pemeluk agama yang terdapat di Kecamatan Wonotunggal mayoritas beragama Islam, dengan jumlah 33.439 jiwa, 17 kahtolik, 12 protestan dan 3 orang beragama Hindu,. Temmpat ibadah yang ada yaitu : Masjid 44 buah, Mushola 140 buah dan 2 gereja.

             Di Kecamatan Wonotunggal belum terbentuk kepemimpinan cabang Muhammadiyah. Sel-sel Muhammadiyah sudah ada di Kecamatan Wonotunggal. Hal ini ditandai dengan terbentuknya kepemimpinan tingkat ranting. Ranting tersebut masih menginduk dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bandar. Satu-satunya ranting yang ada di Kecamatan Wonotunggal yaitu ranting Sodong.

4.    Kecamatan Warungasem

             Kecamatan Warungasem memiliki luas 23,553 Km2. Jumlah desa sebanyak 18 buah dengan penduduk 43.638 jiwa. Pemeluk agama, mayoritas Islam dengan jumlah 43.929 jiwa, Katholik 34, Protestan 5 dan Hindu 2 orang. Rumah ibadah, masjid berjumlah 24 buah, mushola 177, lainnya kosong.

             Kecamatan Warungasem yang berbatasan dengan Kecamatan Doro Pekalongan terbentuknya Kota Pekalongan memiliki potensi yang cukup besar untuk terbentuknya kepemimpinan db Muhammadiyah. Bibit-bibit faham Muhammadiyah sudah ada di Kecamatan Warungasem, namun belum bisa untuk merealisasikan berdirinya Pimpinan Cabang Muhammadiyah di tempat tersebut. Untuk lebih memudahkan dalam mengetahui kondisi Kecamatan yang belum terbentuk PCM maka bisa dilihat tabel di bawah ini :

Tabel 16

KECAMATAN YANG BELUM TERBENTUK PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH

No

Kecamatan

Jumlah Desa

Jumlah Penduduk

keterangan

1.

Tulis

23

65.137

Ada peluang

2.

Blado

20

47.326

Ada peluang

3.

Wonotunggal

16

35.971

Ada peluang

4.

Warungasem

18

43.638

Ada peluang



[1] Wawancara dengan Bapak H.A. Badjuri Pimpinan Daerah Muhammadiyah Periode tahun 2000 – 2005 tanggal 3 Maret 2004 di Ruang Dinas.

[2] Wawancara dengan Bapak Mughni S.Ag PDM Majelis Pembinaan Kader periode 2000 – 2005, tanggal 4 Januari 2004

[3] Wawancara dengan Bapak Soeharto tokoh pendiri PCM Bandar tanggal 2 Februari 2004

[4] SK Musyda 85 tahun 1985 – 1990.

[5] Laporan Musyda PDM Batang Periode 1995-2000 dan Wawancara dengan Bapak H.A. Badjuri Wakil Ketua PDM Batang Periode 2000 – 2005.

[6] Wawancara dengan Bapak Subekti, SA Karim, M. Kaprawi, HM Djimo dan Mawardi, Maret 2003

[7] Wawancara dengan Bapak Subekti, Mawardi, HM Djimo, Kaprawi dan Bapak SA. Karim dan Laporan Musyda PDM Batang Periode 1985 – 1990.

[8] Laporan Musyda PDM Batang Periode 1990 – 1995.

[9] Wawancara dengan Bapak Zaenal Abidin, sekretaris PCM Tersono periode 2000 – 2005.

[10] Wawancara dengan Bapak Mahmudi dan Bapak Edy, Direktur Manajer BMT.



Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website